THR bukan Hanya untuk Lebaran! Menata Ulang Logika Kegembiraan di Bulan Ramadhan

Pernahkah kita menyadari sebuah fenomena unik THR di tengah masyarakat kita? Saat hilal Ramadhan akan tampak, sebagian besar dari kita sibuk menghitung hari menuju Idulfitri. Kita lebih antusias menyiapkan baju baru untuk hari raya daripada menyiapkan perlengkapan ibadah terbaik untuk menghidupkan malam-malam suci.

Dalam acara Tarhib Ramadhan yang digelar oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bogor baru-baru ini, sebuah pesan menohok namun menyejukkan disampaikan. Pesan ini bukan hanya untuk warga persyarikatan, tapi untuk seluruh umat Islam yang merindukan keberkahan.

Silaturahmi: Fondasi Sebelum Memasuki “Gerbang”

Kyai Ahmad Yani, Ketua PDM Kabupaten Bogor, mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar. Beliau menekankan bahwa silaturahmi adalah fondasi utama. Sebelum kita melangkah masuk ke gerbang Ramadhan, hati harus dibersihkan dari sekat-sekat kebencian. Tanpa hubungan yang baik dengan sesama, kualitas diri dan pengabdian kepada umat yang kita targetkan di bulan suci akan terasa hambar.

“Rebranding” THR: Tunjangan untuk Hari-Hari Ramadhan

Salah satu sorotan utama dalam acara tersebut adalah tausiyah dari Ustaz Ahmad Said Matondang, Ketua PCM Kebayoran Baru. Beliau melontarkan istilah yang sangat menarik perhatian: THR.

Selama ini, kita mengenal THR sebagai Tunjangan Hari Raya yang dihabiskan saat Lebaran. Namun, Ustaz Ahmad Said mengajak kita mengubah cara pandang:

Mengapa demikian? Berikut adalah dua alasan fundamentalnya:

  1. Mengoreksi Kegembiraan yang TerbalikBanyak orang merasa gembira saat Ramadhan berakhir karena merasa “bebas” dari beban ibadah. Padahal, Rasulullah SAW memberikan teladan sebaliknya: beliau sangat gembira menyambut kedatangan Ramadhan dan justru bersedih saat bulan mulia itu akan pergi. Kegembiraan kita di awal Ramadhan adalah indikator keimanan kita.
  2. Persiapan Totalitas: Dunia Saja Disiapkan, Masa Akhirat Tidak?Kita sering kali membeli baju baru, perabotan baru, hingga mengecat rumah demi menyambut tamu di hari Lebaran. Lantas, bagaimana dengan persiapan menyambut “Tamu Agung” bernama Ramadhan? Ustaz Ahmad Said menyarankan agar kita tidak ragu untuk:

Membeli mukena atau sarung baru khusus untuk dipakai mulai malam pertama tarawih.

Menyiapkan perlengkapan ibadah terbaik sebagai bentuk ekspresi kegembiraan.

Mengalokasikan dana (THR) untuk mendukung kekhusyukan ibadah selama 30 hari penuh, bukan sekadar untuk konsumsi di hari raya.

Menuju Ekselensi: Belajar dari yang Menginspirasi

Pesan ini sejalan dengan semangat yang diusung oleh Muhammadiyah Kebayoran Baru dan Li-Bend School. Sebagai institusi yang berkomitmen pada Excellence in Islamic Education, mereka mengajarkan bahwa keberhasilan (termasuk keberhasilan ibadah) dimulai dari persiapan yang matang dan branding diri yang positif di hadapan Allah SWT.

Ramadhan tahun ini adalah kesempatan kita untuk tidak lagi menjadi “kaum pemburu diskon Lebaran”, melainkan menjadi “kaum pemburu ampunan” yang tampil dengan performa terbaik sejak hari pertama.

Mari kita siapkan “THR” kita sekarang—bukan untuk berpesta di hari kemenangan, tapi untuk berjuang di hari-hari penuh keberkahan.

Fujiplay88 merupakan situs judi online terpercaya yang menawarkan keuntungan dan keuntungan berupa promosi bonus yang lengkap dan menarik.Promosi bonus adalah bentuk penghargaan dari situs kepada setiap member.Selain keuntungan kemenangan, pemain bisa mendapatkan keuntungan dari bonus atau promosi menarik yang ditawarkan oleh Fujiplay88.Promosi bonus ini memungkinkan pemain untuk memaksimalkan pengalaman mereka dari berbagai jenis permainan judi online di Fujiplay88 dan meningkatkan peluang mereka untuk menang.Dengan begitu, Fujiplay88 menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin mendapatkan keuntungan lebih dari judi online.

Tinggalkan Balasan