Bicara tentang nostalgia puasa, salah satu yang melekat adalah pengalaman berpanas-panas pulang sekolah, membunyikan radio, lanjut rebahan di lantai untuk mengademkan tubuh.
Radio, kala itu, adalah medium yang bahkan mungkin lebih seru ketimbang teve. Ia membuat pendengarnya terhubung dengan pendengar lain di area yang sama, tanpa keluar rumah—mirip seperti Twitter atau media sosial kini, yang jaraknya hanya segenggaman tangan asalkan ada internet. Bedanya, dulu koneksi itu lahir dari selera musik yang sama. Lagu-lagu yang disiarkan pun berasal dari daftar putar yang disusun dengan hati-hati oleh tim, atau bahkan hasil urunan suara se-kota saat sesi open request, sehingga terasa sangat komunal.
Apalagi, saat bulan Ramadan. Stasiun-stasiun radio makin terasa hidup dengan menawarkan ragam acara bulan puasanya. Dari pengajian sahur, jelang berbuka, hingga kuis berhadiah yang dalam sehari bisa digelar empat kali atau bahkan lebih, bergantung pada jumlah sponsor yang sanggup jadi donatur.
Format kuis pun beragam. Umumnya adalah pilihan ganda dengan pertanyaan berdasarkan topik yang sedang dibahas dengan narasumber. Namun, ada satu format yang paling berkesan bagi saya—dan sayangnya adalah format yang paling tidak mungkin diulang kini—yaitu, tebak lagu.
Buat saya, ini adalah format paling menghibur dan mendebarkan di antara format lain. Pada tebak lagu, kru radio yang bertugas akan memperdengarkan sepenggal bagian lagu, lalu mempersilakan pendengar menebak. Tebakannya, terserah. Tidak ada opsi pilihan ganda yang disediakan.
Di sinilah serunya. Meski kuis ini bersifat live dan jawaban peserta yang berhasil telepon dan mengudara tidak disensor, tetapi ketiadaan opsi membuat jawaban yang terkumpul berbeda-beda. Misalnya saja, satu waktu, diperdengarkan lagu dengan lirik seperti ini:
Hidupku yang sengsara, penuh dengan penderitaan
Iya, hanya bagian itu yang dijadikan petunjuk untuk tebak lagu hari itu. Pendengar pun mulai menelepon, mencoba menebak judulnya untuk memenangkan kupon belanja Rp50 ribu.
Hidup yang Sengsara
Hidup Penuh Penderitaan
Jalan Kehidupan
Adalah tiga di antara jawaban yang saya ingat paling banyak disebutkan oleh para pendengar hari itu. Sampai lalu, seorang anak berhasil menelepon, menjawab judulnya sebagai “Doa”, dan berakhir menjadi pemenang tanpa diundi—sebab, ia adalah satu-satunya yang menjawab dengan benar.
Kok, saya tahu? Ya, karena saya adalah anak itu.
Siang itu, ibu membantu membongkar buku kumpulan lirik lagu yang ia miliki. Berkejaran dengan waktu, dalam hati hanya berharap sambungan telepon belum diputus, akhirnya ketemu jawabannya: itu adalah lagu dari Eddy Silitonga yang berjudul Doa. Kami berdua hampir berteriak di depan buku itu.
Nyatanya, secara utuh, lagu itu memang tidak memuat kata “doa” sama sekali. Berbeda dengan kebanyakan lagu yang biasanya setidaknya sekali, akan menyebut judul lagu di liriknya. Sehingga, ketika didendangkan, akan mudah teringat judulnya.
Jadilah, tahun itu, pakaian lebaran saya disponsori oleh toko yang mendanai kuis radio itu.
Memang, radio belum punah, meski sekarang tampaknya susah payah bertahan di tengah kemajuan teknologi dan platform digital. Namun, format kuis yang paling memacu adrenalin dan mengganjar dengan banyak dopamin ini, jelas adalah satu yang paling awal lekang termakan kemajuan teknologi.
Fujiplay88 merupakan situs judi online terpercaya yang menawarkan keuntungan dan keuntungan berupa promosi bonus yang lengkap dan menarik.Promosi bonus adalah bentuk penghargaan dari situs kepada setiap member.Selain keuntungan kemenangan, pemain bisa mendapatkan keuntungan dari bonus atau promosi menarik yang ditawarkan oleh Fujiplay88.